91 Desa Wisata di Yogyakarta, Alternatif Wisata yang Terdampak Merapi

91 Desa Wisata di Yogyakarta, Alternatif Wisata yang Terdampak Merapi

YOGYAKARTA, LELEMUKU.COM - Yogyakarta memiliki 91 desa wisata dengan 51 di antaranya yang layak dikunjungi pada tahun 2010. Namun tiga desa wisata di Kabupaten Sleman hancur terkena erupsi Gunung Merapi sementara 14 lainnya mengalami kerusakan ringan, menunjukkan tantangan unik pengembangan wisata di kawasan rawan bencana.

Konsep desa wisata menjadi alternatif menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman hidup di pedesaan dengan budaya dan aktivitas keseharian masyarakat lokal. Di Yogyakarta, desa wisata menawarkan beragam atraksi mulai dari pertanian, kerajinan tradisional, kuliner khas, hingga seni budaya yang autentik.

Keberadaan 91 desa wisata menunjukkan bahwa Yogyakarta tidak hanya mengandalkan wisata candi, pantai, atau Malioboro. Wisata berbasis masyarakat ini memberikan pengalaman yang lebih mendalam dan berkelanjutan, di mana wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal dan memahami kehidupan mereka.

Namun erupsi Gunung Merapi yang merupakan bencana alam periodik di Yogyakarta memberikan dampak signifikan terhadap desa-desa wisata di lereng Merapi. Tiga desa wisata yang hancur total dan 14 yang rusak ringan menunjukkan kerentanan destinasi wisata di kawasan rawan bencana.

Meski demikian, masyarakat di desa-desa wisata lereng Merapi justru mengubah bencana menjadi peluang dengan mengembangkan wisata minat khusus volcano tourism atau wisata vulkanologi. Wisatawan dapat melihat langsung bekas aliran lahar, rumah-rumah yang tertimbun abu vulkanik, hingga museum mini yang menyimpan artefak dari erupsi Merapi.

Kaliadem yang dulunya merupakan desa wisata populer kini menjadi kawasan wisata Lava Tour yang menarik ribuan wisatawan. Pengunjung dapat menaiki jeep untuk menelusuri jalur yang dilalui lahar panas saat erupsi, melihat bunker penyelamatan, dan mendengar kisah heroik Mbah Maridjan yang memilih bertahan di Merapi.

Selain di lereng Merapi, desa-desa wisata di Yogyakarta juga tersebar di berbagai wilayah dengan keunikan masing-masing. Desa wisata di Gunungkidul menawarkan wisata alam karst dengan gua-gua dan pantai yang eksotis. Desa wisata di Kulon Progo menampilkan keindahan pegunungan Menoreh dengan hamparan sawah berteras yang hijau.

Desa wisata Kasongan di Bantul terkenal dengan kerajinan gerabah dan keramik. Wisatawan dapat melihat langsung proses pembuatan gerabah dari tanah liat hingga pembakaran, bahkan mencoba membuat gerabah sendiri dengan bimbingan pengrajin lokal. Produk gerabah Kasongan telah diekspor ke berbagai negara dan menjadi ikon kerajinan Yogyakarta.

Desa wisata Mangunan di kawasan perbukitan Imogiri menawarkan pemandangan spektakuler dari ketinggian. Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus Mangunan menjadi destinasi favorit untuk fotografi dengan latar belakang pemandangan alam yang memukau. Dari ketinggian, wisatawan dapat melihat hamparan Kota Yogyakarta hingga Pantai Selatan.

Pengembangan desa wisata memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat lokal. Wisatawan yang menginap di homestay, membeli produk kerajinan, dan mengikuti aktivitas wisata memberikan pendapatan tambahan bagi warga desa. Model wisata ini lebih berkelanjutan karena melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

Meski menghadapi tantangan dari bencana alam, desa-desa wisata di Yogyakarta menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Dengan dukungan pemerintah dan pelatihan manajemen desa wisata yang baik, potensi 91 desa wisata ini dapat dimaksimalkan untuk menarik wisatawan yang mencari pengalaman autentik di luar destinasi wisata mainstream. (evu)

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.


Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri


Artikel Terkini Lainnya

    © 2016- Lelemuku.com is owned by PT. Batlax.com.
    Affiliated with Voice of America, VOA Indonesia, Tempo, BenarNews, Teras.id, Reuters, DW and RT

    DMCA.com Protection Status Creative Commons License

    pembaca saat ini: 0